Jumat, 31 Desember 2010
Tanggungjawab Sosial Perusahaan
Tanggungjawab Sosial Perusahaan
Perusahaan memiliki kewajiban sosial atas apa yang terjadi disekitar lingkungan masyarakat. Selain menggunakan dana dari pemegang saham, perusahaan juga menggunakan dana dari sumber daya lain yang berasal dari masyarakat (konsumen) sehingga hal yang wajar jika masyarakat mempunyai harapan tertentu terhadap perusahaan.
Dauman dan Hargreaves (1992) dalam Hasibuan (2001) menyatakan bahwa tanggung jawab perusahaan dapat dibagi menjadi tiga level sebagai berikut :
1. Basic responsibility (BR)
Pada level pertama, menghubungkan tanggung jawab yang pertama dari suatu perusahan, yang muncul karena keberadaan perusahaan tersebut seperti; perusahaan harus membayar pajak, memenuhi hukum, memenuhi standar pekerjaan, dan memuaskan pemegang saham. Bila tanggung jawab pada level ini tidak dipenuhi akan menimbulkan dampak yang sangat serius.
2. Organization responsibility (OR)
Pada level kedua ini menunjukan tanggung jawab perusahaan untuk memenuhi perubahan kebutuhan ”Stakeholder” seperti pekerja, pemegang saham, dan masyarakat di sekitarnya.
3. Sociental responses (SR)
Pada level ketiga, menunjukan tahapan ketika interaksi antara bisnis dan kekuatan lain dalam masyarakat yang demikian kuat sehingga perusahaan dapat tumbuh dan berkembang secara
berkesinambungan, terlibat dengan apa yang terjadi dalam lingkungannya secara keseluruhan.
Tanggung jawab perusahaan tidak hanya terbatas pada kinerja keuangan perusahaan, tetapi juga harus bertanggung jawab terhadap masalah sosial yang ditimbulkan oleh aktivitas operasional yang dilakukan perusahaan.
Adapun Teuku dan Imbuh (1997) dalam Nur Cahyonowati (2003) mendeskripsikan tanggung jawab sosial sebagai kewajiban organisasi yang tidak hanya menyediakan barang dan jasa yang baik bagi masyarakat, tetapi juga mempertahankan kualitas lingkungan sosial maupun fisik, dan juga memberikan kontribusi positif terhadap kesejahteraan komunitas dimana mereka berada. Sedangkan menurut Ivan Sevic (Hasibuan,2001) tanggung jawab sosial diartikan bahwa perusahaan mempunyai tanggung jawab pada tindakan yang mempengaruhi konsumen, masyarakat, dan lingkungan. Selain
itu Weston dan Brigham (1990) menyatakan bahwa perusahaan harus berperan aktif dalam menunjang kesejahteraan masyarakat luas.
Dari ketiga pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa tanggung jawab sosial adalah suatu bentuk pertanggungjawaban yang seharusnya dilakukan perusahaan, atas dampak positif maupun dampak negatif yang ditimbulkan dari aktivitas operasionalnya, dan mungkin sedikit-banyak
berpengaruh terhadap masyarakat internal maupun eksternal dalam lingkungan perusahaan. Selain melakukan aktivitas yang berorientasi pada laba,
perusahaan perlu melakukan aktivitas lain, misalnya aktivitas untuk menyediakan lingkungan kerja yang aman bagi karyawannya, menjamin bahwa proses produksinya tidak mencemarkan lingkungan sekitar perusahaan, melakukan penempatan tenaga kerja secara jujur, menghasilkan produk yang aman bagi para konsumen, dan menjaga lingkungan eksternal untuk mewujudkan kepedulian sosial perusahaan.
1. Pengungkapan Tanggung Jawab Sosial Perusahaan
Menurut Hackston dan Milne, tangggung jawab sosial perusahaan sering disebut juga sebagai corporate social responsibility atau social disclosure, corporate social reporting, social reporting merupakan proses pengkomunikasian dampak sosial dan lingkungan dari kegiatan ekonomi organisasi terhadap kelompok khusus yang berkepentingan dan terhadap masyarakat secara keseluruhan (Sembiring, 2005). Hal tersebut memperluas tanggung jawab organisasi dalam hal ini perusahaan, di luar peran tradisionalnya untuk menyediakan laporan keuangan kepada pemilik modal, khususnya pemegang saham. Perluasan tersebut dibuat dengan asumsi bahwa perusahaan mempunyai tanggung jawab yang lebih luas dibanding hanya mencari laba untuk pemegang saham (Gray et.al (1995) dalam Hasibuan (2001).
Menurut Gray et.al dalam Sembiring (2005) ada dua pendekatan yang secara signifikan berbeda dalam melakukan penelitian tentang pengungkapan tanggung jawab sosial perusahaan. Pertama, pengungkapan tanggungjawab sosial perusahaan mungkin diperlakukan sebagai suatu suplemen dari aktivitas akuntansi konvensional. Pendekatan ini secara umum akan menganggap masyarakat keuangan sebagai pemakai utama pengungkapan tanggung jawab sosial perusahaan dan cenderung membatasi persepsi tentang tanggung jawab sosial yang dilaporkan.
Pendekatan alternatif kedua dengan meletakkan pengungkapan tanggung jawab sosial perusahaan pada suatu pengujian peran informasi dalam hubungan masyarakat dan organisasi. Pandangan yang lebih luas ini telah menjadi sumber utama kemajuan dalam pemahaman tentang pengungkapan tanggung jawab sosial perusahaan dan sekaligus merupakan sumber kritik yang utama terhadap pengungkapan tanggung jawab sosial perusahaan Banyak teori yang menjelaskan mengapa perusahaan cenderung mengungkapkan informasi yang berkaitan dengan aktivitasnya dan dampak yang ditimbulkan oleh perusahaan tersebut. Gray et al (1995) dalam Henny
dan Murtanto (2001) menyebutkan ada tiga studi yaitu :
1. Decision usefullness studies.
Sebagian dari studi-studi yang dilakukan oleh para peneliti yang mengemukakan teori ini menemukan bukti bahwa informasi sosial dibutuhkan oleh para pemakai laporan keuangan. Dalam hal ini para analis, banker, dan pihak lain yang dilibatkan dalam penelitian tersebut diminta untuk melakukan pemeringkatan terhadap informasi akuntansi. Informasi akutansi tersebut tidak terbatas pada informasi akuntansi tradisioanal yang telah dikenal selama ini, namun juga informasi lain yang relatif baru dalam wacana akuntansi. Mereka menempatkan informasi aktivitas sosial perusahaan pada posisi yang moderately important untuk digunakan sebagai pertimbangan oleh para users dalam pengambilan keputusan 2. Economic theory studies
Studi ini menggunakan agency theory dan positive accounting theory, dimana teori tersebut menganalogikan manajemen sebagai agen dari suatu prinsipal. Dalam penggunaan agency theory, prinsipal diartikan sebagai pemegang saham atau traditional users lain. Namun pengertian prinsipal tersebut meluas menjadi seluruh interest group perusahaan yang bersangkutan. Sebagai agen manajemen akan berupaya mengoperasikan perusahaan sesuai dengan keinginan publik (stakeholder).
3. Social and political theory studies.
Studi di bidang ini menggunakan teori stakeholders, teori legitimasi organisasi, dan teori ekonomi politik. Teori stakeholders mengasumsikan bahwa eksistensi perusahaan ditentukan oleh parastakeholders. Perusahaan berusaha mencari pembenaran dari para stakeholders dalam menjalankan operasi perusahaannya. Sehingga berakibat semakin besar pula kecenderungan perusahaan mengadaptasi diri terhadap keinginan para stakeholders-nya.
Menurut Murtanto (2006) dalam Media Akuntansi, pengungkapan kinerja perusahaan seringkali dilakukan secara sukarela (voluntary disclosure) oleh perusahaan. Adapun alasan-alasan perusahaan mengungkapkan kinerja sosial secara sukarela antara lain:
1. Internal Decision Making : Manajemen membutuhkan informasi untuk menentukan efektivitas informasi sosial tertentu dalam mencapai tujuan sosial perusahaan. Walaupun hal ini sulit diidentifikasi dan diukur, namun analissis secara sederhana lebih baik daripada tidak sam sekali
2. Product Differentiation : Manajer perusahaan memiliki insentif untuk membedakan diri dari pesaing yang tidak bertanggung jawab secara sosial kepada masyarakat. Akuntansi kontemporer tidak memisahkan pencatatan biaya dan manfaat aktivitas sosial perusahaan dalam laporan keuangan, sehingga perusahaan yang tidak peduli sosial akan terlihat lebih sukses daripada perusahaan yang peduli. Hal ini mendorong perusahaan yang peduli sosial untuk mengungkapkan informasi tersebut sehingga masyarakat dapat membedakan mereka dari perusahaan lain.
3. Enlightened Self Interest : perusahaan melakukan pengungkapan untuk menjaga keselarasan sosialnya dengan para stakeholder karena mereka dapat mempengaruhi pendapatan penjualan dan harga saham perusahaan.
Pertanggungjawaban sosial berhubungan juga dengan social contract theory. Menurut teori ini, diantara bisnis perusahaan dan masyarakat terdapat suatu kontrak sosial yang secara implisit maupun eksplisit. Dimana dalam kontrak sosial, akuntansi sosial digunakan sebagai serangkaian teknik pengumpulan dan pengungkapan data sehingga memungkinkan masyarakat untuk mengevaluasi kinerja sosial organisasi dalam memberi penilaian mengenai kelayakan operasi organisasi menurut Parker (2002) dalam Nur Cahyonowati (2003). Disamping itu, pertanggungjawaban perusahaan diperlukan untuk menilai apakah kegiatan perusahaan telah memenuhi ketentuan, standar, dan peraturan yang berlaku. Misalnya mengenai polusi, kesehatan dan keselamatan, bahaya pengunaan bahan-bahan yang beracun.
Pada saat perusahaan mulai berinteraksi dan dekat dengan lingkungan luarnya (masyarakat), maka berkembang hubungan saling ketergantungan dan kesamaan minat serta tujuan antara perusahaan dengan lembaga sosial yang ada. Interaksi ini menyebabkan perusahaan tidak bisa lagi membuat keputusan atau kebijakan yang hanya menguntungkan pihaknya saja. Tetapi perusahaan juga harus memikirkan kebutuhan pihak-pihak yang berkepentingan terhadap perusahaan (stakeholder needs). Jika tekanan dari stakeholder berpengaruh kuat terhadap kontinuitas dan kinerja perusahaan maka perusahaan harus bisa menyusun kebijakan sosial dan lingkungan yang terarah dan terlegitimasi (Nur Cahyonowati, 2003).
2 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pengungkapan Sosial
Aktivitas sosial perusahaan merupakan salah satu komponen yang digunakan dalam laporan tahunan. Belum adanya standar baku yang mengatur tentang pelaporan aktivitas sosial perusahaan menyebabkan adanya keanekaragaman bentuk pengungkapan sosial yang dilakukan oleh perusahaan.
Setiap perusahaan mempunyai kebijakan yang berbeda-beda mengenai pengungkapan sosial sesuai dengan karateristik perusahaan. Hal ini menimbulkan masalah dalam pengukuran pengungkapan sosial. Oleh sebab pengukuran pengungkapan sosial dilakukan dengan menggunakan instrumen penelitian berupa daftar item pengungkapan sosial berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Hackston dan Milne (1996)
Banyak faktor yang dapat menpengaruhi pertanggungjawaban sosial, seperti size perusahaan, profitabilitas, ukuran dewan komisaris, maupun profile yang dianggap sebagai variabel penduga dalam pengungkapan pertanggungjawaban sosial. Mengingat banyaknya faktor yang mempengaruhi pertangggungjawaban sosial, maka penelitian ini akan melihat apakah size
perusahaan, profitabilitas, ukuran dewan komisaris, dan tipe perusahaan akan berpengaruh atau tidak terhadap pertanggungjawaban sosial yang dilakukan oleh perusahaan.
1 Size
Size perusahaan merupakan variabel yang banyak digunakan untuk menjelaskan pengungkapan sosial yang dilakukan perusahaan dalam laporan tahunan yang dibuat. Secara umum perusahaan besar akan mengungkapkan informasi lebih banyak daripada perusahaan kecil. Hal ini karena perusahaan besar akan menghadapi resiko politis yang lebih besar dibanding perusahaan kecil. Secara teoritis perusahaan besar tidak akan lepas dari tekanan politis, yaitu tekanan untuk melakukan pertanggungjawaban sosial. Pengungkapan sosial yang lebih besar merupakan pengurangan biaya politis bagi perusahaan (Hasibuan, 2001). Dengan mengungkapkan kepedulian pada lingkungan melalui pelaporan keuangan, maka perusahaan dalam jangka waktu panjang bisa terhindar dari biaya yang sangat besar akibat dari tuntutan masyarakat.
Menurut Buzby (Hasibuan 2001) ada dugaan bahwa perusahaan yang kecil akan mengungkapkan lebih rendah kualitasnya dibanding perusahaan besar. Hal ini karena ketiadaan sumber daya dan dana yang cukup besar dalam Laporan Tahunan. Manajemen khawatir dengan mengungkapkan lebih banyak akan membahayakan posisi perusahaan terhadap kompetitor lain.
Ketersediaan sumber daya dan dana membuat perusahaan merasa perlu membiayai penyediaan informasi untuk pertanggungjawaban sosialnya.
Di samping itu, perusahaan yang berukuran lebih besar cenderung memiliki public demand akan informasi yang lebih tinggi dibanding perusahaan yang berukuran lebih kecil. Alasan lain adalah perusahaan besar dan memiliki biaya keagenan yang lebih besar tentu akan mengungkapkan informasi yang lebih luas hal ini dilakukan untuk mengurangi biaya keagenan yang dikeluarkan. Lebih banyak pemegang saham, berarti memerlukan lebih banyak juga pengungkapan, hal ini dikarenakan tuntutan dari para pemegang saham dan para analis pasar modal (Yuniarti Gunawan, 2000). Cowen et.al (1987) dalam Sembiring (2003) menyatakan bahwa perusahaan yang lebih besar mungkin akan memiliki pemegang saham yang memperhatikan program sosial yang dibuat perusahaan dalam laporan tahunan, yang merupakan media untuk menyebarkan informasi tentang tanggung jawab sosial keuangan perusahan.
Akan tetapi tidak semua peneliti mendukung hubungan antara size perusahaan dengan tanggung jawab sosial perusahaan. Penelitian yang tidak berhasil menunjukkan hubungan kedua variabel ini ditemukan oleh Robert (1992) dan seperti yang disebutkan dalam Hackston dan Milne (1996) antara lain adalah penelitian yang dilakukan oleh Davey (1982) dan Ng (1985).
Sedangkan penelitian yang berhasil menunjukkan hubungan kedua variabel ini antara lain adalah penelitian Nor Hadi dan Arifin Sabeni (2002), Yuniati Gunawan (2000), Bambang Suripto dan Zaki Baridwan (1989), Muhammad Rizal Hasibuan (2001), Rahma Yuliani (2003), Cooke T.E (1992), Belkaoui dan Karpik (1989), dan Hackston dan Milne (1996). Karena ketidakkonsistenan hasil, maka penelitian ini menguji kembali size perusahaan terhadap pengungkapan sosial dalam laporan tahunan di BEJ.
2 Profitabilitas
Pengungkapan mengenai pertanggungjawaban sosial perusahaan mencerminkan suatu pendekatan perusahaan dalam melakukan adaptasi dengan lingkungan yang dinamis dan bersifat multidimensi. Hubungan antara pengungkapan tanggung jawab sosial perusahaan dan profitabilitas perusahaan telah diyakini mencerminkan pandangan bahwa reaksi sosial memerlukan gaya manajerial yang sama dengan gaya manajerial yang dilakukan pihak manajemen untuk membuat suatu perusahaan memperoleh keuntungan (Bowman dan Haire, 1976 dalam Sembiring, 2003).
Pengungkapan tanggung jawab sosial perusahaan merupakan cerminan suatu pendekatan manajemen dalam menghadapi lingkungan yang dinamis dan multidimensional serta kemampuan untuk mempertemukan tekanan sosial dengan reaksi kebutuhan masyarakat. Dengan demikian, ketrampilan manajemen perlu dipertimbangkan untuk survive dalam lingkungan perusahaan masa kini (Cowen et al., 1987 dalam Hasibuan, 2001). Heinze (1976) dalam Gray et.al. (1995b) menyatakan bahwa rofitabilitas merupakan faktor yang memberikan kebebasan dan fleksibilitas
kepada manajemen untuk mengungkapkan pertanggungjawaban sosial kepada pemegang saham. Hal ini berarti semakin tinggi tingkat profitabilitas perusahaan maka semakin besar pengungkapan informasi sosial.
Riset penelitian empiris terhadap hubungan pengungkapan sosial perusahaan, profitabilitas menghasilkan hasil yang sangat beragam. Penelitian Bowman dan Haire (1976) serta Presto (1978) dalam Hackston dan Milne (1996) mendukung hubungan profitabilitas dengan pengungkapan tanggung jawab sosial perusahaan. Sedangkan penelitian yang dilakukan Hackston dan Milne (1996) melaporkan bahwa profitabilitas tidak berpengaruh terhadap pengungkapan tanggung jawab sosial perusahaan. Penelitian di Indonesia yang dilakukan oleh Rahma Yuliani (2003) menunjukan hasil bahwa profitabilitas tidak berpengaruh terhadap pengungkapan sosial dan lingkungan perusahaan.
Berbeda dengan pendapat di atas yang menyatakan bahwa profitabilitas berpengaruh positif terhadap pengungkapan tanggung jawab sosial perusahaan, Donovan dan Gibson (2000) dalam Hasibuan (2003) menyatakan berdasarkan teori legitimasi, salah satu argumen dalam hubungan
antara profitabilitas dan tingkat pengungkapan tanggung jawab sosial adalah ketika perusahaan memiliki laba yang tinggi, perusahaan tidak perlu melaporkan hal-hal yang mengganggu informasi tentang suksesnya keuangan perusahaan. Sebaliknya pada saat tingkat profitabilitas rendah, mereka berharap para pengguna laporan akan membaca “good news” kinerja perusahaan. Misalnya dalam lingkup sosial, ketika investor membaca laporan pengungkapan tanggung jawab sosial perusahaan diharapkan mereka tetap berinvestasi di perusahaan tersebut. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa profitabilitas mempunyai hubungan negatif terhadap pengungkapan tanggung jawab sosial perusahaan.
Namun hal ini bertentangan dengan teori agensi yang menyatakan bahwa semakin besar perolehan laba yang didapat perusahan, maka semakin luas informasi sosial yang diungkapkan perusahaan. Ini dilakukan untuk mengurangi biaya keagenan yang muncul. Mengingat ketidakkonsistenan dari hasil penelitian para ahli yang telah dikemukakan di atas, maka dalam
penelitian ini menguji kembali pengaruh profitabilitas terhadap pengungkapan sosial perusahaan manufaktur dalam laporan tahunan di Bursa Efek Jakarta.
3 Ukuran Dewan Komisaris
Dewan komisaris merupakan mekanisme pengendalian intern tertinggi yang bertanggung jawab untuk memonitor tindakan manajemen puncak. Komposisi individu yang bekerja sebagai anggota dewan komisaris merupakan hal penting dalam memonitor aktivitas manajemen secara efektif (Fama dan Jesen, 1983, dalam Sembiring, 2003). Dewan komisaris yang berasal dari luar perusahaan akan dipandang lebih baik, karena pihak dari luar akan menetapkan kebijakan yang berkaitan dengan perusahaan dengan lebih objektif dibanding perusahan yang memiliki susunan dewan komisaris yang hanya berasal dari dalam perusahaan.
Dewan komisaris terdiri dari inside dan outside directur yang akan memiliki akses informasi khusus yang berharga dan sangat membatu dewan komisaris serta menjadikannya sebagai alat efektif dalam keputusan pengendalian. Sedangkan fungsi dewan komisaris itu sendiri adalah
mengawasi pengelolaan perusahaan yang dilaksanakan oleh manajemen (direksi) dan bertanggung jawab untuk menentukan apakah manajemen memenuhi tanggung jawab mereka dalam mengembangkan dan menyelenggarakan pengendalian intern perusahaan (Mulyadi,2002).
Menurut Beassley (2001) dalam Sembiring (2003) ada tiga karakteristik penting dewan komisaris yang mendukung aktivitas manajemen.
Karakteristik tersebut antara lain : (1) komposisi, (2) pemisahan antara pimpinan dewan komisaris dengan Chief Executive Officer (CEO), dan (3) ukuran dewan komisaris.
Item dan kualitas informasi yang diungkapkan dalam laporan yang disiapkan manajemen dapat mempengaruhi pengambilan keputusan dan kebijakan perusahan. Manajemen memiliki dorongan untuk mengungkapkan informasi yang menguntungkan dan “menyembunyikan” informasi yang tidak menguntungkan. Informasi yang menguntungkan akan diungkap seluasluasnya, sedangkan informasi yang tidak menguntungkan kelihatannya tidak diungkap dan sebagai hasilnya, para pemegang saham tidak akan mengetahui secara khusus informasi yang disembunyikan. Untuk mengatasi hal tersebut, pemegang saham mendelegasikan wewenang mereka dalam memonitor
aktivitas manajemen kepada dewan komisaris.
Teori agensi telah digunakan secara luas dalam penelitian tentang dewan komisaris. Hal ini dilakukan dengan membagi tipe anggota dewan komisaris menjadi dua, yaitu : outside dan inside directors (Kosnik, 1987, dalam Arifin, 2002). Penelitian berkaitan dewan komisaris di Indonesia yang dilakukan Arifin (2002), Dia menemukan bahwa komposisi dewan komisaris yang diukur dengan rasio out side directors terhadap jumlah dewan komisaris mempunyai pengaruh yang signifikan (positif) terhadap pengungkapan sukarela (Sembiring, 2003). Pengungkapan tanggung jawab sosial merupakan bagian dari pengungkapan sukarela di Indonesia, hal ini dikarenakan belum adanya aturan yang mengharuskan perusahaan untuk mengungkapkan berkaitan dengan ukuran dewan komisaris. Coller dan Gregory 1999 dalam Sembiring (2003) menyatakan bahwa semakin besar anggota dewan komisaris maka akan semakin mudah untuk mengendalikan CEO dan memonitoring, sehingga yang dilakukan akan semakin efektif. Dikaitkan dengan pengungkapan tanggung jawab sosial, maka tekanan terhadap manajemen akan semakin besar untuk mengungkapkannya.
4 Profile
Profile perusahaan telah diidentifikasi sebagai faktor potensial yang mempengaruhi praktek pengungkapan sosial perusahaan. Utomo (2000) mendefinisikan industri high profile sebagai industri yang memiliki consumer vasibility, resiko politik yang tinggi, atau kompetisi yang tinggi. Hal ini karena perusahaan yang berorientasi pada pelanggan akan lebih memperhatikan
pertanggungjawaban sosialnya kepada masyarakat, karena hal ini akan meningkatkan citra perusahaan dan dapat mempengaruhi tingkat penjualan.
Robert (1992) menyatakan bahwa penelitian terdahulu yang mencakup industri telah terdapat suatu hubungan sistematis antara karakteristikkarakteristik tersebut dengan aktivitas pertanggungjawaban sosial. Tentu saja semua klasifikasi itu merupakan hal yang subjektif. Robert (1992) memasukan industri automobil, penerbangan, dan minyak sebagai high profile. Cowen et al. (1987) dalam Devina (2004) menyatakan bahwa perusahaan yang berorientasi pada konsumen akan lebih memperhatikan pertanggungjawaban sosialnya kepada masyarakat karena hal ini akan meningkatkan citra perusahaan dan mempengaruhi tingkat penjualan.
Di Indonesia, Muhammad Rizal Muhammad Muslim Utomo (2000) maupun Henny dan Murtanto (2001) memasukan perminyakan dan pertambangan, kimia, hutan, kertas, otomotif, penerbangan, agrobisnis, tembakau dan rokok, makanan dan minuman, media dan komunikasi, energi (listrik), engineering kesehatan, transportasi dan pariwisata sebagai perusahaan yang high profile sedangkan bangunan, keuangan dan perbankan, suplier peralatan medis, properti, retailer, tekstil dan produk tekstil, produk personal, produk rumah tangga sebagai perusahaan yang low profile.
Berdasa rkan penelitian-penelitian sebelumnya dan definisi di atas, penelitian ini akan memasukkan perminyakan dan pertambangan, kimia, hutan, kertas, otomotif, agrobisnis, tembakau dan rokok, makanan dan minuman, media dan komunikasi, kesehatan, transportasi dan pariwisata sebagai perusahaan yang high profile sedangkan bangunan, keuangan dan perbankan, suplier peralatan medis, retailer, tekstil dan produk tekstil, produk personal, produk rumah tangga sebagai perusahaan yang low profile.
Penelitian berkaitan dengan pengungkapan sosial yang dilakukan pada perusahaan high profile dan low profile di Selandia Baru menunjukkan bahwa perusahaan high profile melakukan pengungkapan sosial yang lebih tinggi daripada perusahaan low profile (Hackston dan Milne, 1996). Hasil penelitian yang sama ditemukan oleh Muhammad Rizal Hasibuan (2001), Rahma
Yuliani. (2003), Muhammad Muslim Utomo (2000). Sedangkan penelitian yang dilakukan oleh Davey (1992) dan Ng (1995) dalam Hackston dan Milne (1996) tidak menemukan hubungan antara kedua variabel tersebut. Penelitian ini akan mencoba menguji kembali pengaruh tipe industri terhadap pengungkapan sosial dalam laporan tahunan BEJ.
Filed under: Fak. Ekonomi | 1 Komentar »
Tentang Konsep Diri
Posted on 31 Desember 2010 by Pakde sofa
Tentang Konsep Diri
Konsep diri (self consept) merupakan suatu bagian yang penting dalam setiap pembicaraan tentang kepribadian manusia. Konsep diri merupakan sifat yang unik pada manusia, sehingga dapat digunakan untuk membedakan manusia dari makhluk hidup lainnya. Para ahli psikologi kepribadian berusaha menjelaskan sifat dan fungsi dari konsep diri, sehingga terdapat beberapa pengertian.
1′ Pengertian Konsep Diri
Konsep diri seseorang dinyatakan melalui sikap dirinya yang
merupakan aktualisasi orang tersebut. Manusia sebagai organisme yang memiliki dorongan untuk berkembang yang pada akhirnya menyebabkan ia sadar akan keberadaan dirinya. Perkembangan yang berlangsung tersebut kemudian membantu pembentukan konsep diri individu yang bersangkutan.
Perasaan individu bahwa ia tidak mempunyai kemampuan yang ia miliki.
Padahal segala keberhasilan banyak bergantung kepada cara individu memandang kualitas kemampuan yang dimiliki. Pandangan dan sikap negatif terhadap kualitas kemampuan yang dimiliki mengakibatkan individu memandang seluruh tugas sebagai suatu hal yang sulit untuk diselesaikan.
Sebaliknya pandangan positif terhadap kualitas kemampuan yang dimiliki mengakibatkan seseorang individu memandang seluruh tugas sebagai suatu hal yang mudah untuk diselesaikan. Konsep diri terbentuk dan dapat berubah karena interaksi dengan lingkungannya.
Beberapa ahli merumuskan definisi konsep diri, menurut Burns
(1993:vi) konsep diri adalah suatu gambaran campuran dari apa yang kita pikirkan orang-orang lain berpendapat, mengenai diri kita, dan seperti apa diri kita yang kita inginkan. Konsep diri adalah pandangan individu mengenai siapa diri individu, dan itu bisa diperoleh lewat informasi yang diberikan lewat informasi yang diberikan orang lain pada diri individu (Mulyana, 2000:7). Pendapat tersebut dapat diartikan bahwa konsep diri yang dimiliki
individu dapat diketahui lewat informasi, pendapat, penilaian atau evaliasi dari orang lain mengenai dirinya. Individu akan mengetahui dirinya cantik, pandai, atau ramah jika ada informasi dari orang lain mengenai dirinya.
Sebaliknya individu tidak tahu bagaimana ia dihadapkan orang lain tanpa ada informasi atau masukan dari lingkungan maupun orang lain.
Dalam kehidupan sehari-hari secara tidak langsung individu telah
menilai dirinya sendiri. Penilaian terhadap diri sendiri itu meliputi watak dirinya, orang lain dapat menghargai dirinya atau tidak, dirinya termasuk orang yang berpenampilan menarik, cantik atau tidak. Seperti yang dikemukakan Hurlock (1990:58) memberikan pengertian tentang konsep diri sebagai gambaran yang dimiliki orang tentang dirinya. Konsep diri ini
merupakan gabungan dari keyakinan yang dimiliki individu tentang mereka sendiri yang meliputi karakteristik fisik, psikologis, sosial, emosional, aspirasi dan prestasi.
Menurut William D. Brooks bahwa konsep diri adalah pandangan dan perasaan kita tentang diri kita (Rakhmat, 2005:105). Sedangkan Centi (1993:9) mengemukakan konsep diri (self-concept) tidak lain tidak bukan adalah gagasan tentang diri sendiri, konsep diri terdiri dari bagaimana kita melihat diri sendiri sebagai pribadi, bagaimana kita merasa tentang diri
sendiri, dan bagaimana kita menginginkan diri sendiri menjadi manusia sebagaimana kita harapkan. Konsep diri didefinisikan secara umum sebagai keyakinan, pandangan atau penilaian seseorang, perasaan dan pemikiran individu terhadap dirinya
yang meliputi kemampuan, karakter, maupun sikap yang dimiliki individu (Rini, 2002:http:/www.e-psikologi.com/dewa/160502.htm). Konsep diri merupakan penentu sikap individu dalam bertingkah laku, artinya apabila individu cenderung berpikir akan berhasil, maka hal ini merupakan kekuatan
atau dorongan yang akan membuat individu menuju kesuksesan. Sebaliknya jika individu berpikir akan gagal, maka hal ini sama saja mempersiapkan kegagalan bagi dirinya.
Dari beberapa pendapat dari para ahli di atas maka dapat disimpulkan bahwa konsep diri adalah cara pandang secara menyeluruh tentang dirinya,
yang meliputi kemampuan yang dimiliki, perasaan yang dialami, kondisi fisik
dirinya maupun lingkungan terdekatnya.
2. Jenis-jenis Konsep Diri
Menurut William D.Brooks (dalam Rahkmat, 2005:105) bahwa dalam
menilai dirinya seseorang ada yang menilai positif dan ada yang menilai
negatif. Maksudnya individu tersebut ada yang mempunyai konsep diri yang
positif dan ada yang mempunyai konsep diri yang negatif. Tanda-tanda
individu yang memiliki konsep diri yang positif adalah :
a. Ia yakin akan kemampuan dalam mengatasi masalah.
Orang ini mempunyai rasa percaya diri sehingga merasa mampu dan yakin
untuk mengatasi masalah yang dihadapi, tidak lari dari masalah, dan
percaya bahwa setiap masalah pasti ada jalan keluarnya.
b. Ia merasa setara dengan orang lain.
Ia selalu merendah diri, tidak sombong, mencela atau meremehkan
siapapun, selalu menghargai orang lain.
c. Ia menerima pujian tanpa rasa malu.
Ia menerima pujian tanpa rasa malu tanpa menghilangkan rasa merendah
diri, jadi meskipun ia menerima pujian ia tidak membanggakan dirinya
apalagi meremehkan orang lain.
d. Ia menyadari bahwa setiap orang mempunyai berbagai perasaan dan
keinginan serta perilaku yang tidak seharusnya disetujui oleh masyarakat.
Ia peka terhadap perasaan orang lain sehingga akan menghargai perasaan
orang lain meskipun kadang tidak di setujui oleh masyarakat.
e. Ia mampu memperbaiki karena ia sanggup mengungkapkan aspek-aspek
kepribadian tidak disenangi dan berusaha mengubahnya.
Ia mampu untuk mengintrospeksi dirinya sendiri sebelum
menginstrospeksi orang lain, dan mampu untuk mengubahnya menjadi
lebih baik agar diterima di lingkungannya.
Dasar konsep diri positif adalah penerimaan diri. Kualitas ini lebih
mengarah kekerendahan hati dan kekedermawanan dari pada keangkuhan dan
keegoisan. Orang yang mengenal dirinya dengan baik merupakan orang yang
mempunyai konsep diri yang positif.
Sedangkan tanda-tanda individu yang memiliki konsep diri negatif
adalah :
a. Ia peka terhadap kritik.
Orang ini sangat tidak tahan kritik yang diterimanya dan mudah marah
atau naik pitam, hal ini berarti dilihat dari faktor yang mempengaruhi dari
individu tersebut belum dapat mengendalikan emosinya, sehingga kritikan
dianggap sebagi hal yang salah. Bagi orang seperti ini koreksi sering
dipersepsi sebagai usaha untuk menjatuhkan harga dirinya. Dalam
berkomunikasi orang yang memiliki konsep diri negatif cenderung
menghindari dialog yang terbuka, dan bersikeras mempertahankan
pendapatnya dengan berbagai logika yang keliru.
b. Ia responsif sekali terhadap pujian.
Walaupun ia mungkin berpura-pura menghindari pujian, ia tidak dapat
menyembunyikan antusiasmenya pada waktu menerima pujian. Buat
orang seperti ini, segala macam embel-embel yang menjunjung harga
dirinya menjadi pusat perhatian. Bersamaan dengan kesenangannya
terhadap pujian, merekapun hiperkritis terhadap orang lain.
c. Ia cenderung bersikap hiperkritis.
Ia selalu mengeluh, mencela atau meremehkan apapun dan siapapun.
Mereka tidak pandai dan tidak sanggup mengungkapkan penghargaan atau
pengakuan pada kelebihan orang lain.
d. Ia cenderung merasa tidak disenangi oleh orang lain.
Ia merasa tidak diperhatikan, karena itulah ia bereaksi pada orang lain
sebagai musuh, sehingga tidak dapat melahirkan kehangatan dan
keakraban persahabatan, berarti individu tersebut merasa rendah diri atau
bahkan berperilaku yang tidak disenangi, misalkan membenci, mencela
atau bahkan yang melibatkan fisik yaitu mengajak berkelahi
(bermusuhan).
e. Ia bersikap psimis terhadap kompetisi.
Hal ini terungkap dalam keengganannya untuk bersaing dengan orang lain
dalam membuat prestasi. Ia akan menganggap tidak akan berdaya
melawan persaingan yang merugikan dirinya.
Pernyataan lain menyebutkan bahwa individu yang memiliki konsep
diri negatif maupun positif memiliki ciri-ciri sebagai berikut : (Rini,
2002:http://www.e-psikologi./com/dewasa/1670502.htp)
a. Individu yang memiliki konsep diri negatif meyakini dan memandang
bahwa dirinya lemah, tidak berdaya, tidak dapat berbuat apa-apa, tidak
kompeten, gagal, malang, tidak menarik, tidak disukai dan kehilangan
daya tarik terhadap hidup. Individu ini akan cenderung bersikap psimistik
terhadap kehidupan dan kesempatan yang dihadapinya. Ia tidak melihat
tantangan sebagai kesempatan, namun lebih sebagai halangan. Individu
yang memiliki konsep diri negatif akan mudah menyerah sebelum
berperang dan jika ia mengalami kegagalan akan menyalahkan diri sendiri
maupun menyalahkan orang lain.
b. Individu yang memiliki konsep diri positif akan bersikap optimis, percaya
diri sendiri dan selalu bersikap positif terhadap segala sesuatu, juga
terhadap kegagalan yang dialami. Kegagalan tidak dipandang sebagai
akhir segalanya, namun dijadikan sebagai penemuan dan pelajaran
berharga untuk melangkah kedepan. Individu yang memiliki konsep diri
positif akan mampu menghargai dirinya sendiri dan melihat hal-hal yang
positif yang dapat dilakukan demi keberhasilan di masa yang akan datang.
Dengan melihat uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa
karakteristik konsep diri dapat dibedakan menjadi dua yaitu konsep diri positif
dan konsep diri negatif, yang mana keduanya memiliki ciri-ciri yang sangat
berbeda antara ciri karakteristik konsep diri positif dan karakteristik konsep
diri yang negatif. Individu yang memiliki konsep diri positif dalam segala
sesuatunya akan menanggapinya secara positif, dapat memahami dan
menerima sejumlah fakta yang sangat bermacam-macam tentang dirinya
sendiri. Ia akan percaya diri, akan bersikap yakin dalam bertindak dan
berperilaku. Sedangkan individu yang memiliki konsep diri negatif akan
menanggapi segala sesuatu dengan pandangan negatif pula, dia akan
mengubah terus menerus konsep dirinya atau melindungi konsep dirinya itu
secara kokoh dengan cara mengubah atau menolak informasi baru dari
lingkungannya.
3. Isi Konsep Diri
Sewaktu lingkungan anak yang sedang tumbuh meluas, isi dari
konsep dirinya juga berkembang meluas, termasuk hal-hal seperti pemilikan,
teman-teman, nilai-nilai dan khususnya orang-orang yang disayangi melalui
proses identifikasi. Untuk merumuskan isi dari konsep diri tidaklah mudah,
kita berkedudukan sebagai penilai tentang diri kita sendiri, namun demikian
secara umum isi konsep diri dapat dirumuskan. Menurut Jersild dalam
penelitiannya terhadap penelitian anak sekolah dasar dan sekolah menengah
yang dikutib Burns (1993:209-210) mendiskripsikan isi dari konsep diri
adalah :
a. Karakteristik fisik
Karakteristik yang merupakan suatu ciri atau hal yang
membedakan dari individu dengan individu yang lain yaitu, yang
mencakup penampilan secara umum, ukuran tubuh dan berat tubuh, dan
detail-detail dari kepala dan tungkai lengan. Karakteristik fisik dapat
menyebabkan adanya pandangan yang berbeda tiap individu satu dengan
individu yang lain tentang dirinya sendiri, contohnya kalau seorang
bintang film yang cantik pasti akan dijadikan idola. Hal ini kadang
dijadikan masalah, karena individu itu sendiri merasa memiliki
kekurangan dibandingkan dengan temannya yang memiliki kelebihan,
seperti kurang tinggi, terlalu gemuk, tidak cantik, perasaan ini dapat
berkembang menjadi konsep diri yang negatif apabila masyarakat
memperhatkan dan menjunjung individu yang mempuyai kelebihan
dibandingkan dengan individu yang tidak mempunyai kelebihan.
b. Penampilan
Penampilan dari setiap individu tentunya berbeda antara individu
yang satu dengan individu yang lain, hal ini dapat menggambarkan
kepribdian seseorang. Penampilan ini mencakup cara berpakaian, model
rambut dan make-up, dengan keadaan seperti ini, individu dimungkinkan
percaya diri atau tidak. Misalnya, seseorang yang tidak pernah memakai
make up suatu saat disuruh temannya memakainya, tentunya pada saat itu
ada perbedaan antara temannya yang sudah terbiasa memakai make up
dengan dirinya yang malu dan menutupi wajahnya dengan kain.
c. Kesehatan dan kondisi fisik
Kesehatan dan kondisi fisik sangat diperlukan bagi setiap individu
dalam menjalani hidup ini, terutama dalam mencapai karier. Individu yang
mempunyai kesehatan dan kondisi fisik yang tidak baik akan
mengakibatkan gangguan kenormalan yang berakibat individu itu merasa
tidak aman atau kurang percaya diri, yang berakibat menimbulkan
penilaian terhadap dirinya sendiri menjadi negatif, individu yang memiliki
kesehatan dan kondisi fisik yang baik akan percaya diri bila dibandingkan
dengan yang memiliki kesehatan dan kondisi fisik yang tidak baik atau
lemah.
d. Rumah dan hubungan keluarga
Rumah dan hubungan keluarga merupakan lingkungan pertama
yang dikenal atau ditempati individu saat lahir dan mengenal lingkungan
luar. Didalam rumah, hubungan keluarga akan tercipta suasana dan
kondisi yang menyenangkan atau tidak, ini dapat dijadikan sebagai suatu
informasi, pengalaman, yang dijadikan pegangan hidup individu untuk
berinteraksi, untuk itu rumah dan hubungan keluarga yang terjalin dengan
baik akan membuat individu senang dan bahagia dengan rumah dan
hubungan keluarga yang dimilikinya, tetapi seorang individu yang rumah
dan hubungan keluarganya yang tidak terjalin dengan baik, misalnya
kedua orang tuanya sering bertengkar, bercerai atau broken home ini akan
menyebabkan individu memiliki pandangan negatif tentang keluarganya.
e. Hobi dan permainan
Hobi dan permainan sangat berhubungan, karena dari percobaan
setiap permainan akan muncul pengembangan hobi, dengan terkuasainya
permainan itu, individu akan berusaha mengembangkan kemampuan dan
percaya diri terhadap hobi dan permainannya. Individu yang memiliki
hobi dan permainan yang dapat dikembangkan secara baik akan terarah
dan adanya dukungan dari diri, keluarga dan lingkungan dekatnya,
individu akan termotivasi untuk mengembangkannya dan tentunya
individu itu akan dipandang lingkungan sekitarnya.
f. Sekolah dan pekerjaan sekolah
Sekolah merupakan tempat belajar individu dalam tahap pencarian
ilmu. Dalam sekolah ada tugas-tugas yang diberikan individu. Individu
yang mengerjakan tugasnya sebelum batas waktu pengumpulan, disinilah
terlihat bagaimana kemampuan dan sikap individu terhadap sekolah
apakah ia merasa mampu dan berprestasi didalam mengerjakan tugastugas
sekolah. Seorang individu yang selalu mendapat nilai tidak bagus
ini akan mempengaruhi cara belajarnya atau pandangan individu bahwa
dirinya seorang yang cenderung gagal atau bodoh.
g. Kecerdasan
Kecerdasan berkaitan dengan status intelektual yang dimiliki
individu. Kecerdasan ini ada yang tinggi dan ada yang rendah, dari
kecerdasan ini cara berfikir atau daya tangkap individu berbeda, sehingga
pandangan dirinya sendiri tentunya juga berbeda-beda, misalnya anak
yang memiliki kecerdasan yang baik/tinggi akan dipuji oleh guru, orang
tua dan temannya yang kemudian individu itu akan percaya diri saat
mengerjakan tugas atau mengikuti tes.
h. Bakat dan minat
Bakat dan minat yang dimiliki individu itu berbeda-beda walaupun
individu itu kembar sekalipun. Seseorang yang memiliki bakat dan minat
yang terlatih atau disalurkan akan mengakibatkan individu itu mempunyai
keinginan untuk maju dan berkembang dan biasanya timbul perasaan
percaya diri bahwa dirinya memiliki suatu kelebihan berbeda dengan
individu yang bakat dan minatnya yang tidak jelas atau asal-asalan,
sehingga ini dapat menyebabkan individu putus asa atau tidak percaya
diri.
i. Ciri kepribadian
Ciri kepribadian seseorang ini berhubungan dengan tenpramen,
karakter dan tendensi emosional dan lain sebagainya. Ciri kepribadian ini
akan mempengaruhi individu dalam bertindak atau dalam berfikir,
misalnya seseorang individu yang selalu mengatur, dalam segi kegiatan
individu itu akan selalu mengatur atau berpandangan kalau dia berhak
mengaturnya.
j. Sikap dan hubungan sosial
Sikap dan hubungan sosial yang dilakukan oleh individu akan
berpengaruh terhadap orang-orang yang berada disekitarnya, pergaulan
dengan teman sebaya. Seorang individu yang ekstrovet cenderung akan
senang dengan keadaan ramai dan akan mudah dalam mencari teman atau
memulai pembicaraan, hal ini dapat membuat individu itu semakin
bertambah wawasan, informasi, pengalaman dan pengetahuan. Sedangkan
pada individu yang introvert akan cendeung menutup diri, dan berusaha
menjauh dari teman-temannya dengan berpikiran dirinya mempunyai
banyak kelemahan. Dari uraian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa
sikap dan hubungan sosial ini akan mempengaruhi individu dalam
memandang dirinya sendiri, misalnya anak introvert memandang
lingkungan yang ditemapti saat ini membosankan dan menyakitkan bagi
dirinya sendiri.
k. Religius
Manusia hidup tidak dapat terlepas dari hubungan dengan Tuhan
Yang Maha Esa, karena tanpa bantuan dan karunia-Nya, kita tidak bisa
hidup. Seseorang yang memiliki segi religius positif akan menjalankan
perintah-perintah-Nya dan meninggalkan larangan-larangan-Nya, untuk
itu religius yang positif ini akan mempengaruhi cara berpikir dan
bertingkah laku atau bertindak yang mengarah kepada penilaian diri yang
percaya diri dan positif.
Dari beberapa pendapat di atas maka dapat disimpulkan bahwa isi
konsep diri meliputi penampilan, kepribadian, kecerdasan, kesehatan dan
kondisi fisik, keluarga, hubungan sosial, penyesuaian dengan orang-orang
disekitar dan lawan jenis, bakat dan minat serta hobi.
4. Peranan Konsep Diri
Konsep diri mempunyai peranan penting dalam menentukan perilaku
individu. Individu memandang atau menilai dirinya sendiri akan tampak jelas
dari seluruh perilakunya, dengan kata lain perilaku seseorang akan sesuai
dengan cara individu memandang dan menilai dirinya sendiri. Apabila
individu memandang dirinya sebagai seorang yang memiliki cukup
kemampuan untuk melaksanakan tugas, maka individu itu akan menampakan
perilaku sukses dalam melaksanakan tugasnya. Sebaliknya apabila individu
memandang dirinya sebagai seorang yang kurang memiliki kemampuan
melaksanakan tugas, maka individu itu akan menunjukkan ketidakmampuan
dalam perilakunya.
Rogers (dalam Burns, 1993:353) menyatakan bahwa konsep diri
memainkan peranan yang sentral dalam tingkah laku manusia, dan bahwa
semakin besar kesesuaian di antara konsep diri dan realitas semakin berkurang
ketidakmampuan diri orang yang bersangkutan dan juga semakin berkurang
perasaan tidak puasnya. Hal ini karena cara individu memandang dirinya akan
tampak dari seluruh perilakunya. Konsep diri berperan dalam
mempertahankan keselarasan batin, penafsiran pengalaman dan menentukan
harapan individu. Konsep diri mempunyai peranan dalam mempertahankan
keselarasan batin karena apabila timbul perasaan atau persepsi yang tidak
seimbang atau saling bertentangan, maka akan terjadi situasi psikologis yang
tidak menyenangkan. Untuk menghilangkan ketidakselarasan tersebut, ia akan
mengubah perilakunya sampai dirinya merasakan adanya keseimbangan
kembali dan situasinya menjadi menyenangkan lagi.
Hurlock (1990:238) mengemukakan, konsep diri merupakan inti dari
pola perkembangan kepribadian seseorang yang akan mempengaruhi berbagai
bentuk sifat. Jika konsep diri positif, anak akan mengembangkan sifat-sifat
seperti kepercayaan diri, harga diri dan kemampuan untuk melihat dirinya
secara realitas, sehingga akan menumbuhkan penyesuaian sosial yang baik.
Sebaliknya apabila konsep diri negatif, anak akan mengembangkan perasaan
tidak mampu dan rendah diri. Mereka merasa ragu dan kurang percaya diri,
sehingga menumbuhkan penyesuaian pribadi dan sosial yang buruk pula.
Konsep diri juga dikatakan berperan dalam perilaku individu karena
seluruh sikap dan pandangan individu terhadap dirinya akan mempengaruhi
individu tersebut dalam menafsirkan setiap aspek pengalamanpengalamannya.
Suatu kejadian akan ditafsirkan secara-berbeda-beda antara
individu yang satu dengan individu yang lain, karena masing-masing individu
mempunyai pandangan dan sikap berbeda terhadap diri mereka. Tafsirantafsiran
individu terhadap sesuatu peristiwa banyak dipengaruhi oleh sikap
dan pandangan individu terhadap dirinya sendiri. Tafsiran negatif terhadap
pengalaman disebabkan oleh pandangan dan sikap negatif terhadap dirinya
sendiri, begitu pula sebaliknya. Selanjutnya konsep diri dikatakan berperan
dalam menentukan perilaku karena konsep diri menentukan pengharapan
individu. Menurut beberapa ahli, pengharapan ini merupakan inti dari konsep
diri. Pengharapan merupakan tujuan, cita-cita individu yang selalu ingin
dicapainya demi tercapainya keseimbangan batin yang menyenangkan.
Menurut Rakhmat (2005:104) konsep diri merupakan faktor yang
sangat menentukan dalam komunikasi interpersonal, karena setiap orang
bertingkah laku sedapat mungkin sesuai dengan konsep dirinya. Misalnya
bila seorang individu berpikir bahwa dia bodoh, individu tersebut akan benarbenar
menjadi bodoh. Sebaliknya apabila individu tersebut merasa bahwa dia
memiliki kemampuan untuk mengatasi persoalan, maka persoalan apapun
yang dihadapinya pada akhirnya dapat diatasi. Ini karena individu tersebut
berusaha hidup sesuai dengan label yang diletakkan pada dirinya. Dengan kata
lain sukses komunikasi interpersonal banyak bergantung pada kualitas konsep
diri seseorang, positif atau negatif.
5. Pembentukan dan Pengembangan Konsep Diri
Menurut paham religi khususnya islam manusia terlahir dalam
keadaan putih bersih seperti kertas putih yang belum tertulis. Dengan
demikian konsep diri itu muncul berdasarkan pengalaman, kebiasaan dan
latihan dalam berinteraksi dengan lingkungan. Dengan kata lain konsep diri
merupakan produk sosial. Anak yang putih tersebut ternoda setelah ia
berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya. Setelah anak itu terlahir dapat
memberikan respon terhadap dunia sekitarnya, maka sejak itu pula kesadaran
dirinya muncul menjadi dasar dalam pembentukan konsep dirinya.
Konsep diri dihasilkan dari interaksi dua faktor yaitu diri individu itu
sendiri dan lingkungan (Calhoun alih bahasa Satmoko, 1995:74). Konsep diri
yang dimiliki individu dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor dari lingkungan
individu, karena konsep diri bukan merupakan faktor yang dibawa sejak lahir,
melainkan faktor yang dipelajari dan terbentuk dari beribu-ribu pengalaman
yang berbeda-beda dan sedikit demi sedikit menjadi satu. Setiap orang
dilahirkan tanpa konsep diri. Konsep diri berakar pada pengalaman masa
kanak-kanak dan berkembang akibat dari interaksinya dengan orang lain.
Melalui pengalaman interaksi dengan orang lain dan cara orang lain
memperlakukan individu tersebut akan menangkap pantulan tentang dirinya
dan akhirnya membentuk gagasan dalam dirinya seperti apakah dirinya
sebagai pribadi. Pendek kata, konsep diri individu itu dipengaruhi oleh
keadaan lingkungannya.
Hurlock (1994:132) mengatakan, bahwa konsep diri anak terbentuk
pada awal masa kanak-kanak di dalam hubungannya dengan keluarga, yaitu orang tua, saudara-saudara kandung, dan sanak saudara lain yang merupakan dunia sosial bagi anak-anak. Menjelang berakhirnya masa kanak-kanak, anak mulai membentuk konsep diri yang ideal. Pada mulanya konsep diri ideal ini mengikuti pola yang digariskan oleh orang tuanya, guru dan orang lain di sekitar kemudian meluas pada tokoh-tokoh yang dibaca atau didengar. Keluarga mempunyai peranan yang penting dan paling dini dalam pembentukan konsep diri, karena terdapat banyak kondisi dalam keluarga yang ikut membentuk konsep diri pada anak, yaitu cara orang tua dalam mendidik anak, cita-cita orang tua terhadap anaknya, posisi urutan anak dalam urutan dalam keluarga, identitas kelompok dan ketidaknyamanan lingkungan.
Selanjutnya Centi (1993:16-23) faktor-faktor yang mempengaruhi
pembentukan konsep diri adalah :
a. Orang Tua
Dalam hal ini informasi atau cerminan tentang diri kita, orang tua kita memegang peranan paling istimewa. Penilaian yang orang tua kenakan kepada kita untuk sebagian besar menjadi penilaian yang kita pegang tentang diri kita. Sebutan orang tua yang diberikan pada anaknya seperti “pemalas”, “bodoh” akan selalu menghantui perjalanan individu dan individu akan meragukan keberadaan dirinya.
b. Saudara Sekandung
Hubungan dengan saudara sekandung juga penting dalam pembentukan konsep diri. Anak sulung yang diperlakukan seperti seorang pemimpin oleh adik-adiknya dan mendapat banyak kesempatan berperan sebagai penasihat mereka, mendapat banyak keuntungan besar dari kedudukannya dalam hal pengembangan konsep diri yang sehat. Sedang anak bungsu
yang pada umumnya dianggap seperti anak kecil terus menerus akan
mengakibatkan kepercayaan dan harga dirinya lemah.
c. Sekolah
Tokoh utama di sekolah adalah guru, seorang guru yang sikap dan
pribadinya baik membawa dampak besar bagi penanaman gagasan dalam
pikiran siswa tentang diri mereka. Untuk kebanyakan siswa, guru
merupakan model. Selain itu siswa yang sering mendapatkan prestasi
dalam bidang akademik maupun bidang lain, tentu akan memperoleh
pujian dan pengahargaan dari banyak pihak di sekolah mulai dari teman,
guru, bahkan kepala sekolah. Bagi mereka pujian dan pengahargaan dapat
menumbuhkan konsep diri positif karena ada pengakuan dari orang lain
yang menerima keberadaan dirinya. Seangkan siswa yang bermasalah
akan sering dihukum cenderung memiliki konsep diri negatif.
d. Teman sebaya
Hidup kita tidak terbatas dalam lingkungan keluarga saja, kita juga punya
teman. Teman sebaya merupakan urutan kedua setelah orang tua. Setelah
mendapatkan pengakuan dari orang tua individu juga membutuhkan
pengakuan dari orang lain yaitu teman sebaya. Peranan individu dalam
kelompok sebagai “pemimpin kelompok” atau sebaliknya “pengacau
kelompok” akan membuat individu memiliki pandangan terhadap dirinya
sendiri (Calhoun alih bahasa Satmoko, 1995:78). Dalam pergaulan dengan
teman-teman itu, apakah kita disenangi, dikagumi, dan dihormati atau
tidak, ikut menentukan dalam pembentukan konsep diri kita.
e. Masyarakat
Sebagai anggota masyarakat sejak kecil kita sudah dituntut untuk
bertindak menurut cara dan patokan tertentu yang berlaku pada
masyarakat kita. Penilaian masyarakat terhadap diri individu akan
membentuk konsep diri individu. Penilaian masyarakat yang terlanjur
menilai buruk terhadap individu akan membuat individu kesulitan
memperoleh melalui gambaran diri yang baik.
f. Pengalaman
Banyak pandangan tentang diri kita, dipengaruhi juga oleh pengalaman
keberhasilan dan kegagalan kita. Konsep diri adalah hasil belajar, dan
belajar dapat diperoleh melalui pengalaman individu sehari-hari. Dalam
melakukan aktifitas sehari-hari individu dihadapkan pada keberhasilan dan
kegagalan. Pengalaman individu yang mengalami keberhasilan dan
kegagalan. Pengalaman individu yang mengalami keberhasilan studi,
bergaul, berolah raga akan mudah mengembangkan harga diri individu.
Sedangkan pengalaman kegagalan akan merugikan perkembangan harga
diri individu.
Pendapat lain menyatakan bahwa ada beberapa faktor yang dapat
mempengaruhi proses pembentukan konsep diri seseorang, yaitu : (Rini,
2002:http://www.e-psikologi.com/dewa/160502.htm).
a. Pola asuh orang tua
Pola asuh orang tua menjadi faktor yang penting dalam pembentukan
konsep diri seseorang. Orang tua adalah kontak sosial pertama yang
dialami individu, dan apa yang dikomunikasikan oleh orang tua terhadap
individu akan lebih menancap daripada informasi lainnya (Calhoun alih
bahasa Satmoko, 1995:77). Sikap positif yang dilakukan orang tua seperti
cinta kasih, perhatian akan menumbuhkan konsep dan pemikiran yang
positif serta sikap menghargai diri sendiri, individu merasa dicintai banyak
orang sehingga ia merasa pantas mencintai dirinya sendiri. Sebaliknya
sikap negatif orang tua akan mengundang pertanyaan pada individu
manakala orang tua tidak memberikan kehangatan, cinta kasih sayang
pada individu, sehingga menimbulkan pemikiran pada individu bahwa
dirinya tidak bergharga dan tidak pantas dicintai.
a. Kegagalan
Kegagalan yang dialami secara terus menerus akan menimbulkan
pertanyaan pada diri individu itu sendiri dan membuat individu membuat
kesimpulan sendiri bahwa dirinya tidak memiliki kelebihan, merasa
dirinya hanya mempunyai kelemahan sehingga individu merasa tidak
berguna, bahkan merasa dirinya hancur.
b. Depresi
Individu yang mengalami depresi akan memiliki pemikiran yang
cenderung negatif dalam memandang dan merespon segala sesuatu,
termasuk dalam menilai diri sendiri. Semua hal cenderung dipersepsi
negatif. Individu yang depresi akan sulit melihat kemampuan dirinya
untuk bertahan menjalani kehidupan, dan biasanya individu ini cenderung
sensitif dan mudah tersinggung.
c. Kritik Internal
Mengkritik diri sendiri diperlukan untuk menyadarkan individu akan
perbuatan yang telah dilakukan. Kritikan terhadap diri sendiri berfungsi
sebagai rambu-rambu dalam bertindak dan berperilaku agar keberadaan
individu dapat diterima oleh masyarakat dan dapat beradaptasi dengan
baik.
Konsep diri merupakan produk sosial, maka Sullivan
(Rakhmat,2005:101) menjelaskan bahwa individu mengenal dirinya dengan
mengenal orang lain lebih dahulu. Dalam hal ini penilaian orang lain terhadap
individu tersebut akan membentuk konsep dirinya sesuai dengan penilaian itu.
Misalnya jika individu itu diterima orang lain, dihormati, dan disenangi
karena keadaan dirinya, dia akan cenderung bersikap menghormati dan
menerima dirinya. Sebaliknya, bila orang lain selalu meremehkan,
menyalahkan, dan menolaknya, individu akan cenderung tidak menyenangi
dirinya. Dengan kata lain individu akan termotivasi untuk berperilaku sesuai
dengan pandangan orang lain terhadap dirinya. Pandangan individu tentang
keseluruhan pandangan orang lain terhadap dirinya disebut generalized other
atau role taking dan berperan penting dalam pembentukan konsep diri
seseorang.
Informasi, pengharapan dan pengertian yang membentuk konsep diri
terutama berasal dari interaksi dengan orang lain. Orang tua merupakan orang
lain yang paling awal dalam membentuk konsep diri. Selanjutnya yang
mempengaruhi konsep diri adalah teman sebaya dan akhirnya
menyumbangkan konsep diri adalah masyarakat. Dengan kata lain konsep diri
terbentuk karena umpan balik dari masyarakat.
Setelah konsep diri terbentuk maka konsep diri juga mengalami
perkembangan, konsep diri berkembang secara bertahap yaitu mulai dari bayi
dimana saat bayi mulai mengenal dan membedakan dirinya dengan orang lain.
Perkembangan konsep diri terpacu cepat dengan perkembangan bicara.
Tahap selanjutnya adalah pada masa anak yang mana keluarga
mempunyai peran yang penting dalam membantu perkembangan konsep diri
terutama pada pengalaman-pengalaman pada masa kanak-kanak. Suasana
keluarga yang saling menghargai dan mempunyai pandangan yang positif
akan mendorong kreatifitas anak, menghasilkan perasaan yang positif dan
berarti.
Hurlock (1994:235), mengemukakan bahwa konsep diri biasanya
bertambah stabil pada masa remaja. Hal ini memberi perasaan kesinambungan
dan memungkinkan remaja memandang diri sendiri dengan cara yang
konsisten, tidak memandang diri hari ini berbeda dengan hari lain, sehingga
dapat meningkatkan harga diri dan memperkecil perasaan tidak mampu.
Selanjutnya Hurlock (1994:172) mengatakan konsep diri selalu menuju kepembentukan konsep diri yang ideal. Konsep diri yang ideal pertama-tama ditentukan oleh orang-orang di sekitar sesuai dengan tingkat perkembangan diri individu. Dengan demikian faktor yang mempengaruhi konsep diri dapat dipisahkan melalui tingkat perkembangan masing-masing individu. Faktorfaktor yang mempengaruhi konsep diri pada masa balita akan berbeda dengan faktor yang mempengaruhi konsep diri pada masa kanak-kanak. Demikian pula pada saat individu dalam masa remaja. Masa remaja merupakan masa yang potensial untuk mengembangkan konsep diri, sebab masa remaja adalah masa yang penuh dengan tekanan yang memungkinkan individu menemukan identitas dirinya. Dengan mencoba berbagai peran, remaja mengharapkan bahwa ia mempunyai kesempatan untuk mengembangkan diri dan menyesuaikan diri dengan tugas-tugas perkembangannya, maka ia juga kehilangan kesempatan untuk mengembangkan konsep dirinya.
Berdasarkan berbagai pendapat para ahli di atas yang telah
mengemukakan tentang faktor-faktor yang mempengaruhi konsep diri, secara jelas dapat dikatakan bahwa konsep diri seseorang bukanlah diwariskan atau ditentukan secara biologis, bukan merupakan bawaan sejak lahir tetapi terbentuk dan berkembang hasil proses belajar melalui interaksi dengan orang lain. Konsep diri pertama kali dibentuk hasil dari individu dengan lingkungan keluarga terutama orang tua seperti sebutan orang tua yang diberikan pada anaknya seperti “pemalas”, “bodoh” akan selalu menghantui perjalanan individu, saudara kandung seperti perlakuan orang tua kepada anak sulung dan anak bungsu, seterusnya teman sebaya antara lain apakah kita disenangi, dikagumi, dan dihormati atau tidak oleh teman kita, selanjutnya sekolah misalkan seorang guru yang menjadi model bagi para muridnya, masyarakat seperti penilaian masyarakat yang terlanjur menilai buruk kepada individu dan yang terakhir pengalaman-pengalaman pribadi seperti kegagalan, depresi dan kritik internal.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar